Ibunda Ferry Maryadi Meninggal Dunia

Pemain sinetron Ferry Maryadi saat ini tengah berduka setelah ibunya meninggal dunia. Rospita, ibu Ferry Maryadi, meninggal dunia di usia 79 tahun di RS Pusat Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Hari Rabu, 14 Agustus 2024 pukul 17.13 WIB.
Saat ini ibunda Ferry Maryadi, Rospita, telah dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Ferry Maryadi turun dari mobil ambulans yang membawa jenazah sang ibu. Suami Deswita Maharani ini tampak tegar saat menggotong keranda jenazah ibunya.
“Assalamualaikum.” Ucap Ferry Maryadi di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Ferry Maryadi bersama dua kakaknya kemudian turun ke liang lahat. Ia kemudian mengazankan ibunya. Ferry Maryadi yang awalnya tegar, tidak kuasa menahan tangis. Suaranya bergetar, saat melantunkan azan termasuk ikamah.
Anak Ferry Maryadi, Harleyava Princy merasa terpukul atas kepergian sang nenek, Rospita. Di makam, anak Ferry Maryadi tersebut sesekali mengusap air mata. Didampingi sang ibu, cewek yang akrab disapa Leya ini menaruh bunga. Bukan hanya sekadar taburan, dia juga meletakkan buket mawar merah dan bunga lain berwarna putih.
“Ini bunga favorit Nin.” Ucap Leya di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Leya kemudian menghela napas dan langsung beranjak pergi. Ia tidak mau kesedihan tersebut diperlihatkan ke banyak orang. Perempuan yang dikabarkan dekat dengan Rizwan Fadila alias Njan anak Sule ini, menepi dari keramaian. Baru setelah proses pemakaman, Leya bercerita soal kedekatan dengan nenek yang disapanya dengan panggilan Nin.
“Aku dekat banget sama Nin, suka cerita bahkan masalah pribadi sekalipun.” Ujar Leya.
Karena ini pula, Leya sampai tahu bunga kesukaan sang nenek.
“Orang-orang taruh bunga, tapi aku tahu Nin suka sama buket bunga merah, jadi ya, aku kasih itu.” Sambung Leya.
Mengenai mengapa sang nenek begitu menyukai mawar merah, Leya menuturkan setiap orang memiliki kesukaan masing-masing. Sehingga tidak ada alasan spesifik mengapa mawar merah yang menjadi kesukaan neneknya.
“Siapa yang enggak suka bunga? Setiap orang suka. Aku punya bunga favorit, begitu pula Nin, jadi itu personal aja sih.” Ucap Leya.
Berpulang di usia 79 tahun, diketahui mertua Deswita Maharani itu sudah mengidap sakit sejak tahun lalu.
“Kalau dirunut lagi, mama sakit sudah 20 bulan, terus mama jatuh sebelumnya yang mengakibatkan mama kondisinya setiap hari semakin menurun.” Ucap Deswita Maharani saat ditemui di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Deswita Maharani menceritakan kondisi mertuanya yang sempat jatuh empat hari lalu makin membuat keadaannya semakin parah.
“Drop empat hari terakhir kelihatan perubahan drastis dari bentuk fisik mama dua Minggu terakhir. Empat hari sebelum kepergian mama, ya mama lagi ngebersihin dirinya sendiri dengan mengeluarkan cairan berwarna hitam. Kaki dingin, kesadaran menurun, nggak ada respons sama sekali. Sudah tiga hari dua malam dan kondisi kritis, memang mama sudah tidak sadar kondisinya. Dalam arti medis sudah kritis responsnya pun minim.” Tutur Deswita Maharani.
Saat sang mertua masuk ke rumah sakit, Deswita Maharani beserta kakak Ferry Maryadi yang saat itu berada di rumah sakit sudah bersiap dengan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi nantinya.
“Pada saat mama dibawa sama kakak-kakaknya ke rumah sakit, dokter bawa ke ICU dan kritis, kami saling menguatkan dan mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan terburuk.” Ujar Deswita Maharani.
Ferry Maryadi sendiri sedang berada di luar kota saat ibundanya mengembuskan napas terakhir. Ketika berada di pemakaman, ia terlihat tegas dan mengaku dirinya berusaha keras menyembunyikan kesedihannya.
“Kelihatannya saja tegar. Ya namanya saya anak bungsu ditinggalkan mama sudah pasti hancur, patah hati, cuman ya dikuat-kuatin saja. Walau terlihat tegar dan ikhlas, tetap nangis dan kehilangan.” Ucap Ferry Maryadi.
Mengenang sang ibunda semasa hidupnya, suami Deswita Maharani itu menyebut tidak pernah dimarahi oleh orang tuanya sejak kecil.
“Percaya atau tidak, di umur saya yang 50 tahun ini, seumur hidup saya belum pernah dimarahi mama.” Ujar Ferry Maryadi saat ditemui di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Bahkan, ibundanya jarang melarang apa pun yang dilakukan oleh Ferry Maryadi sejak kecil.
“Dimarahin apalagi dibentak belum pernah. Penolakan pun jarang banget gitu, misal saya minta apa mama jangan, nggak boleh.” Tutur Ferry Maryadi.
Walau begitu, konsekuensi dari hal tersebut membuat aktor berusia 50 tahun itu harus bisa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya seorang diri.
“Saya sampai pernah mau jalan-jalan sendirian ke luar kota kelas tiga SMP, mama yang ya sudah kamu tanggung jawab. Saya naik motor, tabrakan, saya bermasalah dengan orang, tanggung jawab sendiri.” Ungkap Ferry Maryadi.
Ada hal tersirat yang diajarkan oleh ibundanya pada Ferry Maryadi sebagai anak bungsu. Yaitu untuk membentuk perilaku bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan sendiri.
“Jadi, mama nggak pernah marah apalagi membentak, nggak pernah mengatur-atur, sudah mama tahu anak anaknya mungkin punya tanggung jawab jadi membebaskan semuanya supaya membuat kita jadi lebih dewasa menghadapi hidup yang mungkin nanti lebih keras lagi.” Pungkas Ferry Maryadi.