Komedian Nurul Qomar Mengidap Kanker Usus Stadium 4C

Kabar yang tidak menyenangkan datang dari pelawak senior, Nurul Qomar. Lama tidak terlihat di layar kaca, ternyata Nurul Qomar tengah berjuang melawan sakit. Personel grup lawak Empat Sekawan ini sudah sekian lama terbaring di RSUD Kabupaten Tangerang. Nurul Qomar mengeluhkan perutnya mengalami rasa sakit. Qomar didiagnosis mengalami kanter usus stadium 4c.

Qomar mengeluhkan rasa sakit di bagian perutnya, rasa sakit tersebut diketahui sudah berlangsung selama satu bulan. Selain itu Qomar juga merasakan kesulitan saat Buang Air Besar (BAB). Hal ini membuatnya akhirnya memeriksakan diri ke rumah sakit.

“Saya enggak bisa buang gas dan buang air besar,” kata Qomar.

Melalui akun Instagram miliknya, Qomar memberikan kabar terbaru terkait dirinya. Ia mengatakan akan menjalani kemoterapi sebagai bagian dari pengobatan kanker usus.

“Hari ini hari pertama, Abah Qomar dikemoterapi. Dua minggu sekali atau dua kali dalam sebulan berarti, selama enam bulan ke depan (menjalani kemoterapi),” tulisnya.

Ia juga mengungkapkan penyebab dirinya mengidap kanker usus. Salah satu faktornya adalah genetik atau keturunan. Hal itu terungkap setelah melakukan berbagai pemeriksaan.

“Setelah dilakukan pemeriksaan secara sesama, scan, rontgen, dan semua proses, semua medical dilalui, ‘Pak Haji ada faktor genetika sudah lama’. Jadi faktor genetik,” ucap Qomar

Selain itu dicurigai pula pola makan yang tidak sehat menjadi salah satu pemicu terjadinya kanker usus.

“Cuma memang barangkali ada satu keadaan pola makan yang tidak sehat. Karena secara perlahan, tapi pasti itu pemicu sel-sel kanker,” ungkapnya.

“Ada indikasi itu, selama satu tahun ada pola makan yang tidak ideal. Tapi saya tidak berbeda dengan yang lain, tidur bersama, makan bersama gitu, biasa-biasa saja. Ada indikasi, tapi memang sudah kecenderungan lama, ‘Tahunan nih Pak haji’ tapi hereditas,” lanjutnya.

Setelah ditelusuri, ada salah satu anggota keluarga Qomar yang ternyata juga mengidap penyakit yang sama.

“Begitu ditelusuri ke atas ada yang dari keluarga punya penyakit sama. Anak saya juga ada indikasi, faktor genetika. Asma juga,” kata Qomar.

Penampilan Qomar juga tampak berbeda, kini ia terlihat lebih kurus dari biasanya. Qomar menganggap penyakit yang dideritanya kini sebagai proses kehidupan, ia harus melalui segala cobaan untuk berproses dalam kehidupan.

“Proses yang mesti dijalani, setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolahan. Ini bagian dari school of life, sekolah kehidupan yang harus dilalui. Kita usaha dan semua teman, keluarga dan sahabat adalah kekuatan kita,” kata Qomar.

Dirinya pun sadar penyakit yang dideritanya ini merupakan penyakit yang sudah banyak merenggut nyawa orang. Walau begitu, Qomar mengaku dirinya akan tetap berusaha untuk bisa sembuh. Dirinya akan terus berupaya untuk mengobati penyakit yang dideritanya.

“Kanker ganas stadium 4C ancamannya umur pendek, biasanya banyak yang lewat (meninggal). Cuma yang saya bangun adalah sebagai manusia harus berusaha, baik secara medis maupun herbal. Nanti ketuk palunya Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Qomar.

Dirinya juga sangat menyakini Tuhan dapat memberikannya kesembuhan.

“Saya sangat percaya kuasa Tuhan. Yang penting kita usaha maksimal. Nanti kalau sudah usaha dengan maksimal semoga saja panjang umur,” imbuhnya.

Dalam upaya melawan kanker yang dideritanya, selain berusaha menangani secara medis, Qomar juga terus menjaga kesehatan mentalnya dengan membangun pola pikir yang sehat.

“Saya nggak berpikir masalah kematian walaupun secara medis kanker ganas stadium 4C itu ancamannya pendek umur. Saya imbangi dengan bangun mindset yang sehat kalau nggak gitu bakal terpuruk dengan keadaan,” tuturnya.

Selain itu, dalam melawan kanker yang dideritanya juga, pria yang pernah menjabat sebagai rektor dan mantan anggota DPR ini, terus membangun mimpi yang akan direalisasikannya.

“Kedua terus membangun mimpi kita ke depan itu yang memacu secara psikologis dan meningkatkan imunitas dan mimpi yang kita bangun itu kita realisasikan ke depan dengan paradigma berpikir futuristik tidak berpikir 3 -5 tahun tapi 20 sampai 30 tahun ke depan,” tuturnya.