Sastrawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

Kabar duka menyelimuti dunia sastra Tanah Air. Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana dikabarkan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di Unit Gawat Darurat (UGD) RS Cipto Mangunkusumo, pada hari Kamis 22 April 2021 kemarin..
“INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJIUN. Telah berpulang malam ini pk. 20.00 adik saya tercinta Radhar Panca Dahana di UGD RS Cipto Mangunkusumo. Mohon maaf atas semua kesalahan dan dosanya. Mohon doa agar ia mendapat tempat yang terbaik di sisiNya. Aaminn YRA. (Dari Radhar Tribaskoro),” bunyi pesan yang diterima pihak media.
Kabar meninggalnya sastrawan Dan budayawan tanah air itu dibenarkan sang adik kandung almarhum yang bernama Ratuh (54).
“Saya tahu tadi pukul 20.30 WIB dari kakak saya dan istrinya almarhum,” katanya saat ditemui di rumah duka yang berada di kawasan Jalan Villa Pamulang Blok CF 6, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Kamis malam.
Ratih menuturkan almarhum meninggal akibat serangan jantung yang dideritanya pada Rabu, 21 April 2021 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Menurutnya almarhum sedang melakukan perawatan berupa cuci darah akibat riwayat penyakit yang dideritanya.
Namun, nyawa almarhum tidak dapat tertolong usai serangan jantung menimpa dirinya dikala sedang menjalani perawatannya.
“Pukul 7 itu dia masih tau dia katanya kritis. Sebelumnya pukul 7 itu kena serangan jantung. Terus masih diusahakan. Tapi ternyata katanya sudah meninggal dunia,” jelasnya.
Adapun keluarga almarhum berencana memakamkan jenazah pada Jumat, 23 April 2021 usai melaksankan ibadah Shalat Jumat.
“Kita rencananya sih di Tanah Kusir, Kebyoran Lama, Jakarta Selatan besok bada dzuhur setelah Shalat Jumat,” pungkasnya. (m23)
Penyair Noorca Marendra Massardi mengaku sangat kehilangan sosok Budayawan, Radhar Panca Dahana. Noorca mengaku mendapat kabar dari Radhar Tri Baskoro bahwa sahabatnya dipanggil Sang Khalik pada Kamis 22 April 2020 sekira pukul 20.00 WIB.
Noorca mengaku sangat mengenal dekat Radhar. Pertemanan keduanya sudah terjalin sejak 40 tahun lalu.
“Saya bersahabat dengan Radhar sudah 40 tahun sejak dia masih kecil. Saya sudah anggap seperti adik saya sendiri,” kata Noorca.
Noorca mengaku kagum dengan sosok Radhar Panca Dahana yang bisa terus berkarya dan memperjuangkan hidup para seniman di tengah kondisinya yang sedang menderita gagal ginjal. Noorca menilai, Radhar memiliki semangat juang yang tinggi.
“Dia bisa bertahan untuk hidup melawan penyakitnya gagal ginjal, selama 20 tahun terakhir, dia berjuang dengan itu dan tetap semangat, tetap berkarya, tetap bikin tulisan, tetap bikin pentas, tetap aktif memperjuangkan para seniman, memberikan penghargaan kepada tokoh para teater senior berbagai cara dan upaya dia lakukan dan tidak pernah mengenal lelah,” ujar dia.
Kepedulian terhadap seniman pun tidak perlu diragukan lagi. Noorca mengungkapkan, Radhar Panca Dahana adalah sosok budayawan yang sangat istimewa, dia memiliki jaringan yang sangat luas baik itu di kalangan seniman, budayawan hingga kalangan politisi.
“Saya kira dia punya jaringan yang tidak dimiliki para seniman lain. Temennya banyak sekali, politisi budayawan, seniman yang senior maupun junior,” ujar dia.
Noorca mengungkapkan cita-cita yang betul-betul diwujudkan oleh sahabatnya itu. Sanggar Panca Dahana diketahui dikenali lewat karya-karyanya di bidang sastra, esai, cerita pendek, hingga puisi. Dia merupakan lulusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI) dan studi Sosiologi di École des Hautes Études en Science Sociales, Paris, Prancis (2001).
Kemampuannya dalam bidang menulis sudah terlihat sejak usia 5 tahun. Kepiawaian dalam bidang tersebut kemudian membawanya menjadi seorang cerpenis. Dia diketahui memulai debutnya sebagai seorang sastrawan pada usia 10 tahun lewat cerpen Tamu Tak Diundang. Dia juga menapaki karir sebagai reporter lepas di sebuah majalah remaja, Zaman.
Dia juga sempat menjadi redaktur tamu di majalah Kawanku pada tahun 1977. Selain sudah menulis banyak buku, dia juga menerima sejumlah penghargaan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Radhar juga pernah bergabung dalam Bengkel Teater Rendra bersama Sitok Srengenge, Adi Kurdi, dan lain-lain. Ketokohannya sebagai sastrawan dan budayawan menjadikannya sering diundang sebagai narasumber di berbagai diskusi, seminar, dan wawancara di televisi.