Sutradara Erza Diduga Melakukan Pelecehan
Dunia industri kreatif Tanah Air dihebohkan dengan kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa seorang remaja perempuan berusia 17 tahun bernama Adine. Ia diduga menjadi korban grooming dan pelecehan oleh oknum sutradara berinisial “E” dengan modus open casting film thriller psikologis.
Kasus ini terungkap setelah Adine membagikan kronologi lengkap serta bukti percakapannya di media sosial X, yang langsung viral dan menyita perhatian publik.
Semua berawal saat Adine yang bercita-cita menjadi aktor, melihat sebuah pengumuman open casting untuk film thriller psikologis yang diunggah oleh sebuah agensi di Instagram. Dalam pengumuman tersebut, disebutkan bahwa film bergenre thriller, psikologis, dengan kriteria talent ekspresif dan tidak takut darah.
Adine pun mengirimkan berkasnya melalui nomor WhatsApp yang tercantum. Namun kejanggalan pertama muncul, bukannya dihubungi oleh tim casting ia justru langsung dihubungi oleh seseorang yang mengaku sebagai sutradara proyek film tersebut.
Percakapan awal antara Adine dan sutradara “E” sudah mulai terasa tidak biasa. Tanpa basa-basi, sang sutradara mengirimkan foto Adine yang sedang memakai tankini di pantai menggunakan fitur sekali lihat (view once). Foto tersebut diambil dari akun Instagram pribadi Adine. Ketika ditanya, “E” beralasan sedang memeriksa Instagram para talent.
Pertanyaan semakin personal ketika “E” menanyakan status hubungan Adine.
“Pasangan km aman kah jika ada film yg hrus bersama lawan jenis?” tanya “E” dalam percakapan WhatsApp.
Adine yang saat itu fokus mengejar mimpi mengabaikan rasa janggal tersebut, terlebih ia melihat agensi yang mengadakan casting bukanlah agensi sembarangan.
Saat menjalani casting secara tatap muka (offline), Adine dan para talent lainnya mendapatkan perlakuan istimewa yang tidak biasa. Mereka diberi fasilitas ruangan VIP dan makanan enak. Namun di balik itu, ada aturan-aturan aneh yang justru membatasi interaksi para talent.
“Kami pulang ditentukan, gak boleh ada yang pulang sebelum waktu yang ditentukan. Kami dilarang mengobrol satu sama lain, dilarang berkenalan dgn lawan jenis.” Ungkap Adine.
Setelah proses casting selesai, para talent diwajibkan membuat video testimoni untuk memuji production house (PH) dan nama sutradara. Adine pun mengikuti arahan tersebut tanpa banyak curiga.
Empat hari pasca-casting, Adine mendapat kabar bahwa ia lolos. Namun, dalam panggilan telepon, “E” menyebut bahwa peran yang akan ia mainkan adalah peran sensual. Adine yang memiliki batasan langsung menyatakan keberatannya.
Bukannya menerima penolakan, “E” justru mulai melancarkan aksinya. Ia mengirimkan video-video dewasa yang diklaimnya sebagai referensi peran, dan meminta Adine untuk membayangkannya.
Tidak hanya itu, ia mulai meminta Adine mengirimkan foto-foto dengan pose tertentu. Awalnya ia meminta foto dengan pose seolah-olah sedang disiksa dan takut hendak diperkosa dengan menggunakan dress putih.
Saat Adine mengelak tidak punya dress, “E” nekat menawarkan diri untuk membelikannya, lengkap dengan menanyakan ukuran bra dan celana dalam Adine .
Merasa tertekan, Adine sempat luluh dan mengirimkan foto yang diminta, namun dengan syarat tanpa memperlihatkan wajah dan tidak vulgar. Respons “E” semakin tidak terkendali, ia memuji foto tersebut dan mengatakan, “Uhhh indah banget sumpah pas ini mah”. Bahkan, ia kemudian menanyakan, “Kalau adegan ak cium ketiak km gapapa yaa”.
Seiring waktu, “E” kian menjadi. Ia meminta Adine untuk rutin berkomunikasi dengannya dengan dalih “membangun chemistry” untuk kebutuhan film. Ia melarang Adine memanggilnya “kak” dan memintanya untuk berperan sebagai pacar, mantan, atau bahkan sosok yang jahat padanya demi membangun emosi .
Saat Adine mulai berani bersikap tegas dan mengancam akan mundur, “E” berganti taktik. Ia langsung menelepon Adine dan keluarganya untuk membahas kontrak dengan iming-iming fee di atas rate card. Dalam pembahasan yang disaksikan orang tua Adine, disepakati tidak akan ada adegan menyentuh area sensitif.
Namun, setelah telepon berakhir, “E” kembali mengirimkan pesan yang merinci “tarif” untuk sentuhan fisik, seolah-olah menghargai tubuh Adine dengan uang. Adine membeberkan rincian mengerikan itu.
“Dia menghargai badanku dengan uang, cium ketiak 500rb, cium pipi 250rb, cium leher 250rb, pegang paha dll. … Masuk ke dalam rok ceweny. Cium area kemaluan 3 juta hanya cium saja tapi rahasia kita sja ini mah ortu pasti malu” .
Merasa muak dan tidak nyaman, Adine memilih untuk mengabaikan pesan-pesan mesum tersebut. Ia meminta orang tuanya untuk berbicara langsung dengan “E” dan memutuskan untuk mundur dari proyek film yang tidak bermoral tersebut. Adine bersyukur telah diberi kesadaran untuk segera keluar dari jeratan oknum tersebut.
“Akhirnya aku memutuskan untuk gak bergabung ke dalam project yg tdk bermoral.” Tulis Adine
Sutradara film Tirai Jagal, Erza, akhirnya buka suara terkait dugaan pelecehan berkedok casting yang viral di media sosial. Ia merespons pengakuan seorang perempuan berinisial A yang mengaku menjadi korban pelecehan saat mengikuti proses casting film tersebut.
Melalui video klarifikasi yang dibagikan ulang akun @thread_id pada Senin, 23 Februari 2026, Erza secara tegas membantah seluruh tudingan yang diarahkan kepadanya. Ia menekankan, bahwa proyek film yang ia garap memang mengusung genre sensitif.
“Saya selaku penulis, sutradara film ini. Memang film kita adalah film gore, action, thriller, pembunuhan, psikopat, penculikan, penyekapan, pembunuhan, penyiksaan, adegan sensual.” Ujar Erza.
Erza membenarkan bahwa perempuan berinisial A merupakan salah satu talent yang berhasil lolos ke tahap kedua casting.
“Orang yang kemarin speak up itu adalah orang yang sudah terpilih casting tahap kedua.” Ujar Erza.
Namun, terkait dugaan adanya pelecehan dalam proses casting film Tirai Jagal, Erza menegaskan bahwa tim produksi sudah menyampaikan secara terbuka sejak awal mengenai adanya adegan sensual dalam film tersebut.
“Sebelum mereka datang, mereka sudah kita info, ini adegannya begini, ini ada sentuhan di area-area ini, kamu bersedia atau tidak.” Ungkap Erza.
Menurut Erza, timnya hanya mencari talent yang secara sadar bersedia mengikuti konsep film yang sudah dijelaskan sebelumnya.
“Jadi tujuan kita memang mencari talent-talent yang bersedia.” Ucap Erza.
Di tengah ramainya tudingan dugaan pelecehan casting yang menyeret namanya, Erza menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas kegaduhan yang terjadi.
“Buat teman-teman semua ini hanya sedikit yang berlebihan saja, jadi atas nama pribadi saya mohon maaf bila sudah membuat kegaduhan.” Ucap Erza.
Walau isu ini mencuat dan memicu perdebatan di media sosial, Erza memastikan proses produksi film tetap berjalan sesuai rencana. Ia kembali menegaskan bahwa sejak awal pihaknya sudah memberi peringatan mengenai genre sensitif yang diangkat.
“Kita akan tetap garap film ini, memang bergenre sensitif dan kita sudah sounding di awal.” Ujar Erza.
Erza juga menyatakan kesiapan untuk bertanggung jawab apabila di kemudian hari muncul permasalahan hukum atau persoalan lain terkait tudingan tersebut. Ia menilai isu yang berkembang saat ini sudah terlalu dibesar-besarkan.
“Saya @officialerza menyampaikan kita pro-aktif, saya juga tidak ke mana-mana, dalam arti kita akan selesaikan persoalan ini pastinya karena ini sudah cukup berlebihan.” Pungkas Erza.