Kontroversi Konten Willie Salim Di Palembang

Konten 200 kilogram rendang hilang yang dimasak kreator konten Willie Salim di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang, kini berbuntut panjang. Willie Salim dilaporkan oleh tiga orang di Polda Sumatera Selatan, karena dianggap telah membuat kegaduhan dan merusak citra nama baik kota Palembang.
Laporan tersebut dibuat oleh Ryan Gumay dan Agung Wijaya, yang keduanya diketahui berprofesi sebagai advokat serta satu orang lagi, kreator konten Palembang bernama Rendy Aditya atau Rondoot.
Kasubdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumsel, AKBP Dwi Utomo, membenarkan adanya tiga laporan terkait Willie Salim yang telah masuk. Laporan tersebut kini telah dilakukan penyelidikan dengan meminta keterangan para saksi.
“Kami akan meminta keterangan saksi-saksi, termasuk meminta keterangan terlapor WS.” Ujar Dwi.
Dalam proses penyelidikan, Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Sumatera Selatan akan mengumpulkan alat bukti untuk memperkuat laporan pelapor, termasuk rekaman video yang kini telah beredar.
“Selain meminta keterangan saksi, penyidik juga akan mengumpulkan alat bukti kasus ini.” Ucap Dwi.
Sementara itu, Ryan Gumay, salah satu pelapor, mengaku konten yang dibuat oleh Willie Salim telah membuat citra nama kota Palembang menjadi buruk. Karena itu, ia pun melaporkan Willie atas dugaan pelanggaran Undang-Undang ITE terkait konten yang kini sudah tersebar.
“Laporan yang dibuat ini untuk menegaskan upaya langkah hukum terhadap kreator Willy Salim agar ada efek jera sekaligus pelajaran bagi kreator lain yang terindikasi sengaja membuat konten tanpa mempertimbangkan konsekuensi hukum, juga dampak sosial yang ditimbulkan.” Ucap Ryan.
Ryan pun meminta kepada Willie untuk bertanggung jawab atas kegaduhan yang ditimbulkan.
“Kami berharap agar (laporan) segera ditindaklanjuti. Kami juga akan terus mengawal hingga yang bersangkutan mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.” Tutur Ryan.
Konten kreator kuliner, Bobon Santoso, memberikan tanggapan terkait insiden yang melibatkan Tiktokers Willie Salim usai membuat rendang 200 kg di Palembang. Menurut Bobon Santoso, ada sejumlah hal yang menunjukkan bahwa persiapan kegiatan tersebut kurang matang.
“Jadi mungkin WS ini datang ke lokasi, nggak men-survey. Kalau biasanya kita men-survey, dinamika di lapangan seperti apa dan dengan alat-alat yang menurut kita ini tidak proper. Akhirnya dimulai kejadian seperti ini.” Ucap Bobon Santoso saat ditemui di kawasan Condet, Jakarta Selatan.
Bobon juga menyoroti kejanggalan dari segi waktu dalam video yang diunggah.
“Jelas ada kejanggalan. Karena kan dari narasi di video itu kan, statementnya ngomong buat masak buat berbuka. Sedangkan baru masuk daging aja itu di jam 7 malam.” Tutur Bobon.
Selain itu, pria berusia 37 tahun ini mendengar berbagai informasi yang menyebutkan tindakan Willie Salim yang pergi ke WC merupakan tindakan fatal.
“Kejanggalan yang paling menurut kita yang paling nggak masuk akal ya tentunya, beliau ini ke WC ke toilet.” Ucap Bobon Santoso.
Bobon Santoso menilai kurangnya persiapan membuat konten ini akhirnya hanya berorientasi pada keviralan untuk konten Willie Salim.
“Jadi boleh dibilang ya memang tujuannya hanya untuk konten sih, untuk mencari views.” Ucap Bobon.
Dalam kesempatan yang sama, Bobon Santoso berharap masyarakat Palembang bisa bersikap sabar terhadap kejadian ini.
“Kita harapin masyarakat Palembang ya bersabar, bersabar dengan ujian seperti ini ya, dan kita harapin ke depannya konten kreator, nggak banyak lagi yang melakukan tindakan-tindakan yang merugikan komunitas besar.” Ucap Bobon.
Niatnya Willie ingin membagikan ke warga setempat setelah rendangnya masak, namun niat tersebut tak berjalan sesuai harapan. Dalam kontennya, Willie menyebutkan bahwa rendang yang belum masak justru telah habis tidak bersisa saat ia tinggal ke toilet.
Willie Salim memilih Jembatan Ampera, Palembang, sebegai tempatnya untuk melakukan masak besar. Dalam laman TikToknya, kreator ini mengunggah proses memasak rendang sebanyak 200 kg. Ia masak di tengah kerumunan warga yang antusias sejak sore hari. Hingga jam 7 malam, daging sapi untuk rendang baru akan dimasukkan ke wajan raksasa tersebut.
Saat proses pemasakan, Willie mengatakan izin ke toilet selama 10 menit. Namun, baru beberapa saat ditinggal, ia mendapatkan kabar bahwa rendang yang tadi sedang dimasak hilang. Willie pun kembali ke tempat memasak dan menemukan bahwa rendang 200 kg tadi sudah habis tak bersisa. Wajan raksasa yang tadinya penuh dengan daging sudah bersih.
Mendapat kabar bahwa rendangnya telah hilang, Willie kembali ke tempat kejadian. Ia pun mempertanyakan kemana rendang yang tadi dimasak ke pihak penjagaan. Anggota kepolisian tersebut mengatakan bahwa warga sudah diarahkan untuk menunggu, tapi karena antusias yang besar, rendang tersebut lenyap tak bersisa.
Pihak kepolisian tersebut pun mengatakan bahwa warga mengambilnya dengan tempat bermacam-macam, dari kresek hingga gayung. Selain itu, salah satu pria di tempat kejadian mengatakan bahwa hal ini terjadi karena terlalu antusiasnya warga.
Konten memasak rendang yang berujung ludes sebelum masak tersebut viral di laman TikTok. Ramai warganet berkomentar yang menyerang warga Palembang. Banyak warganet yang membanding-bandingkan warga Palembang dengan warga Papua yang disebut lebih bisa mengantre saat pembagian makanan gratis. Berbagai komentar dari konten yang dibagikan dinilai dinilai sudah menyakiti dan membuat nama orang Palembang menjadi buruk.