Beredar Petisi Boikot Sarwendah

Kisruh rumah tangga antara Ruben Onsu dan Sarwendah tampaknya memasuki babak baru yang semakin memanas. Bukannya mereda, perselisihan yang awalnya hanya berkutat di ruang sidang soal hak asuh anak dan nafkah, kini justru menggelinding liar hingga memicu reaksi keras dari publik.

Di tengah proses hukum yang masih berjalan, Sarwendah kini harus menghadapi hantaman baru berupa gerakan boikot di media sosial. Netizen tampaknya mulai mengambil sikap atas polemik yang terjadi di antara mantan pasangan suami istri ini.

Isi petisi tersebut blak-blakan mengajak berbagai brand dan pelaku usaha untuk meninjau ulang kerja sama promosi (endorsement) mereka dengan Sarwendah selama polemik ini belum mereda.

Melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, Ruben menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak punya kaitan dengan gerakan boikot tersebut. Minola menyebut kliennya saat ini hanya ingin fokus pada jalur hukum terkait hak asuh anak, alih-alih ikut campur dalam riuh opini netizen di media sosial.

“Ruben Onsu kan memang tidak terkait dengan masalah sikap dari masyarakat atau netizen untuk melakukan pemboikotan ya terhadap S. Karena yang kami perjuangkan sebenarnya adalah perjuangan yang berbeda.” Ujar Minola Sebayang saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Minola kembali menekankan bahwa apa yang dihadapi mantan istri kliennya murni merupakan dinamika di ruang digital, sementara perjuangan Ruben sepenuhnya berada di koridor hukum pengadilan.

Walau memilih ogah ikut campur dalam gerakan netizen, pihak Ruben Onsu menilai kemunculan petisi tersebut tidak terjadi begitu saja. Bagi mereka, apa yang dialami Sarwendah saat ini merupakan bentuk sanksi sosial yang lahir dari sikapnya sendiri di ruang publik. Minola membeberkan, belakangan ini banyak gelagat dan ucapan Sarwendah, terutama saat melakukan siaran langsung (live streaming), yang memicu emosi warganet.

“Masyarakat melihat banyak hal-hal yang dianggap tidak pantas, tidak pada dasarnya bertentanganlah dengan banyak hal, termasuk norma. Ucapan-ucapan S ketika live TikTok misalnya, menghina ayah anak-anaknya, mengecilkan arti uang 200 juta, bahkan aksi jualan yang dianggap tabu bagi masyarakat Timur.” Ujar Minola.

Lebih lanjut, pihak Ruben melihat aksi boikot ini sebagai konsekuensi langsung karena Sarwendah dinilai sengaja mempermalukan Ruben di depan umum. Salah satunya terkait langkah Sarwendah yang sempat mengumbar isu miring soal kejaran debt collector hingga perkara cicilan rumah yang seret.

“Ini merupakan sanksi sosial yang diterima oleh S, yang merupakan konsekuensi dari apa yang dia buat. Artinya masyarakat menilai ada hal yang tidak pantas.” Pungkas Minola.

Mantan manajer Sarwendah, Nanda Persada, ikut menanggapi hal tersebut. Nanda menilai, reaksi publik merupakan konsekuensi logis dari status Sarwendah sebagai figur publik. Ia menyebut netizen saat ini sangat sensitif terhadap isu-isu etika dan keluarga.

“Itu konsekuensi dari seorang public figure. Namanya artis harus menjaga attitude-nya. Ketika netizen melihat seorang artis bersikap tidak etis, pasti ada sanksi sosial,” Ujar Nanda.

Nanda menyayangkan sikap pihak Sarwendah yang dianggap tidak segera melakukan langkah perdamaian. Ia menyarankan agar Sarwendah segera meminta maaf secara tulus demi meredam situasi.

“Mestinya cepat-cepat meminta maaf dengan tulus kepada pihak yang langsung berhadapan dengan dia. Enggak perlu lagi ada sindir-menyindir di medsos. Kalau komunikasi baik, semuanya akan selesai cepat.” Ucap Nanda.

Nanda yang juga sahabat dekat Ruben Onsu berharap konflik yang dialami kedua pihak lekas menemui titik terang. Jika konflik makin berlarut-larut, Nanda memprediksi masalah akan semakin meluas ke pihak lain hingga menghasilkan langkah-langkah hukum yang baru.

“Aku berharap ini masalahnya cepat selesai. Karena kalau enggak, ini bisa melebar ke mana-mana. Ada juga kan ancaman dari diknya Wenda. Kita enggak tahu, beredar. Itu juga bisa jadi masalah secara hukum juga. Jadi Ruben bilang dia mau fokus ke soal anak-anak. Tapi kalau ternyata ini jadi merembet ke mana-mana ya itu konsekuensi yang harus dihadapi sama Ruben dan orang-orang yang bersangkutan.” Ucap Nanda.